Apakah Anda?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Apakah Anda merasa kesulitan dalam membuat Proposal Bantuan, Pelaporan, Skripsi, Tesis, Disertasi, PTK, atau Karya Tulis Ilmiah. Bila memerlukan bantuan, silahkan kontak kami.
Wassalam
matsahudi@yahoo.com
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Tampilkan postingan dengan label TIPE ISI BIDANG STUDI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TIPE ISI BIDANG STUDI. Tampilkan semua postingan

Keefektifan pembelajaran berdasarkan perolehan isi bidang Studi

Bagian ini akan menguraikan dimensi lain untuk mengukur keefektifan pembelajaran yaitu dengan mengaitkannya pada tipe isi apa yang dipelajari dan pada tingkat (unjuk-kerja) apa? Bagaimanapun juga, seperti telah banyak diuraikan sebelumnya, suatu metode pembelajaran  seringkali hanya cocok untuk belajar tipe isi tertentu dan di bawah kondisi tertentu. Atau, dengan ungkapan lain, pengaruh optimal suatu metode hanya nampak bila digunakan untuk mempelajari tipe isi tertentu di bawha kondisi tertentu. Ini berarti bahwa utuk belajar tipe isi yang lain dan di bawah kondisi yang lain pula, diperlukan metode pembelajaran  yang berbeda.
Sebagai contoh, strategi pengorganisasian model elaborasi hanya cocok untuk menata ranah kognitif. Lebih khusus lagi, model Taba (1980), sebagai strategi pengorganisasian tingkat mikro, hanya dimaksudkan untuk belajar konsep dan, karena itu, hanya cocok untuk pembentukan konsep.
Model Gagne dan Briggs (1979) lebih jelas lagi mempreskripsikan  bahwa  suatu hasil belajar memerlukan kondisi belajar internal dan kondisi belajar eksternal yang berbeda. Ini selanjutnya tercermin dalam perbedaan tahapan peristiwa pembelajaran  untuk tiap-tiap hasil belajar.
Reigeluth dan Stein (1983) secara tegas mempreskripsikan penggunaan struktur isi (epitome) yang berbeda untuk tipe isi yang berbeda. Struktur konseptual hanya dipakai untuk tipe isi konseptual, struktur prosedural untuk tipe isi prosedur, dan struktur teoritik untuk tipe isi prinsip.
Jadi, keefektifan suatu pembelajaran selalu dapat dikaitkan dengan tipe isi bidang studi yang dipelajari. Suatu pembelajaran  mungkin tidak efektif untuk belajar tipe isi tertentu, tetapi untuk isi lain, ia bisa amat efektif. Penelitian Degeng (1988) menunjukkan bahwa teori elaborasi lebih efektif untuk belajar konsep daripada untuk belajar informasi verbal. Atas dasar ini, keputusan untuk menetapkan bahwa suatu pembelajaran efektif harus disertai dengan priskripsi efektif untuk tipe isi apa.
Tingkat unjuk-kerja merupakan sisi lain dari pengukuran keefektifan pembelajaran  berdasarkan tipe isi yang dipelajari. Bila tipe isi yang dipelajari termasuk ranah kognitif, hirarkhi unjuk-kerja, kalau memakai klasifikasi Bloom (1956), bermula dari pengetahuan, ke pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan akhirnya evaluasi. Pengetahuan adalah tingkat yang paling rendah dalam ranah kognitif menurut klasifikasi Bloom, maju ke tingkat berikutnya menuntut kemampuan intelektual yang lebih tinggi. Keefektifan pembelajaran dalam kaitannya dengan tingkat unjuk-kerja akan menanyakan pada tingkat mana siswa menampilkan unjuk-kerja? Pada tingkat Pengetahuankah? Pemahaman? Atau, tingkat evaluasi? Suatu pembelajaran  mungkin akan efektif bila digunakan untuk tingkat unjuk-kerja tertentu, tetapi tidak untuk tingkat unjuk-kerja  lainnya.  Informasi   mengenai  ini  juga    amat
penting untuk mempreskripsikan keefektifan sebagai hasil pembelajaran.
Selain klasifikasi Bloom, Gagne dan Briggs (1979) juga mempreskripsikan hirarkhi hasil belajar, khusus untuk ketrampilan intelektual. Mulai dari diskriminasi, konsep konkrit, konsep abstrak, kaidah, dan kaidah tingkat yang lebih tinggi (pemecahan masalah). Tingkat unjuk-kerja terendah, diskriminasi, memerlukan kondisi belajar internal dan eksternal yang berbeda dari tingkat unjuk-kerja berikutnya. Keefektifan pembelajaran juga bisa dilihat dari hirarkhi hasil belajar ini.
Matriks dua dimensi Merrill (1983): unjuk-kerja dan tipe isi, jelas sekali peranannya untuk pengukuran keefektifan pembelajaran. Selain dapat dilihat dari sisi tipe isi bidang studi yang dipelajari, juga sekaligus dapat menunjukkan pada tingkat mana unjuk-kerja yang diperlihatkan siswa. Apakah pada tingkat mengingat? Menggunakan? Atau, Menemukan? Kalau mengingat, apakah mengingat fakta, konsep, prosedur, atau prinsip? Kalau sampai pada tingkat menggunakan, apakah menggunakan konsep, prosedur, atau prinsip? Akhirnya, apabila mencapai tingkat menemukan, tipe isinya juga dapat dirinci. Apakah menemukan konsep? Prosedur? Ataukah menemukan prinsip?
Pengukuran keefektifan pembelajaran yang menekankan ranah sikap juga menggunakan indikator yang serupa. Seperti telah diungkapkan sebelumnya, bahwa hirarkhi belajar sikap dimulai dari menerima suatu nilai, maju ke tahap merespon nilai itu, terus muncul rasa penghargaan, selanjutnya adanya keinginan untuk mengorganisasi nilai itu ke dalam suatu sistem nilai, dan akhirnya bertindak secara konsisten sesuai dengan nilai yang telah diorganisasinya dan menjadi milikinya. Tingkatan unjuk-kerja ranah sikap ini juga dapat dijadikan indikator pengukuran keefektifan pembelajaran.
Pertanyaan yang serupa kembali dapat dimunculkan di sini: "Pembelajaran ini efektif untuk belajar ranah sikap pada tingkat yang mana?" Tingkat menerima suatu nilai? Tingkat merespon? Atau, sampai tingkat terakhir, tindakan yang konsisten?
Cara yang sama juga dapat dipakai untuk mempreskripsikan pembelajaran ranah ketrampilan motorik. Dari lima tingkatan ketrampilan motorik yang dikemukakan Simpson (1966), persepsi adalah tingkat yang terendah. Proses ini harus dilalui lebih dulu sebelum maju ke tingkatan berikutnya, yaitu kesiapan.
Adanya kesiapan mental, fisik, dan emosional akan memungkinkan seseorang melakukan suatu tindakan. Pada tingkat ini masih merupakan tindakan meniru suatu model (model mengenai ketrampilan yang diajarkan). Tindakan coba-gagal juga sering dilakukan pada tingkat ini, untuk mencapai penguasaan tingkat minimal ketrampilan itu. Penguasaan dengan tingkat kepercayaan minimal ini memungkinkan seseorang melakukan suatu tindakan secara otomatis, yang selanjutnya akan menuju ketingkat penampilan tindakan secara terpola. Pada tingkat kelima ini, seseorang sudah mampu menampilkan suatu tindakan dengan tingkat kecermatan yang amat tinggi.
Tingkat keenam, lebih merupakan tindakan alih ketrampilan. Tingkat ini menuntut seseorang untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian tindakan sesuai dengan tuntutan atau persyaratan situasi di mana tindakan itu akan ditampilkan. Pada tingkat ini juga dimungkinkan munculnya pola tindakan baru yang khusus diperlukan untuk memecahkan masalah baru yang dihadapi.
Seperti halnya, ranah kognitif dan sikap, tingkatan penguasaan ketrampilan seperti yang diklasifikasi oleh Simpson (1966) ini, juga dapat digunakan sebagai indikator tingkat keefektifan pembelajaran. Tentu saja, hanya pembelajaran  yang  menekankan  pada   penguasaan   suatu
ketrampilan motorik. Pada tingkat manakah siswa menguasai suatu ketrampilan? Pada akhir suatu pembelajaran, apakah siswa berhasil mencapai tingkat keenam, yaitu penyesuaian dan/atau keaslian? Atau, apakah hanya mencapai tingkat sebelumnya, yaitu tindakan terpola? Atau, bahkan mungkin tingkat yang lebih rendah lagi? Dengan melakukan pembandingan tingkat pencapaian ketrampilan dari beberapa metode pembelajaran yang digunakan, akan dapat ditetapkan mana dari metode pembelajaran  itu yang paling efektif.
SUMBER http://data.tp.ac.id/

Tipe Isi Bidang Studi Dan Keefektifan Pembelajaran

Tipe Isi Bidang Studi
Berbagai pemikiran mengenai taksonomi hasil pembelajaran  yang didasarkan pada tipe isi bidang studi telah berkembang dewasa ini. Bloom (1956) telah mengklasifikasi hasil pembelajaran  menjadi tiga, yaitu:
1.     Kognitif.
2.     Sikap.
3.     Psikomotorik
  • Kognitif: Ranah yang menaruh perhatian pada pengembangan kapabilitas dan ketrampilan intelektual.
  • Sikap: Ranah yang berkaitan pengembangan perasaan, sikap, nilai, dan emosi.
  • Psikomotorik: Ranah yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan manipulatif atau ketrampilan motorik.
Ranah Kognitif
Bloom mengklasifikasi lebih lanjut ranah kognitif menjadi enam, dan tiap-tiap klasifikasi dikembangkan lagi menjadi bagian-bagian klasifikasi yang lebih khusus. Semua klasifikasi diurut secara hirarkhis dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Keenam klasifikasi ranah kognitif Bloom adalah sebagai berikut:
1.     Pengetahuan
2.     Pemahaman
3.     Penerapan
4.     Analisis
5.     Sintesis
6.     Penilaian
  • Pengetahuan: Klasifikasi yang menekankan pada mengingat, apakah dengan mengungkapkan atau mengenal kembali sesuatu yang telah pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan. 
  • Pemahaman: Klasifikasi ini menekankan pada pengubahan informasi ke bentuk yang lebih mudah dipahami.
  • Penerapan: Menggunakan abstraksi pada situasi tertentu dan konkrit. Tekanannya adalah untuk memecahkan suatu masalah. 
  • Analisis: Memilah informasi ke dalam satuan-satuan bagian yang lebih rinci sehingga dapat dikenali fungsinya, kaitannya dengan bagian yang lebih besar, serta organisasi keseluruhan bagian.
  • Sintesis: Penyatuan bagian-bagian untuk membentuk suatu kesatuan yang baru dan unik.
  • Penilaian: Pertimbangan-pertimbangan tentang nilai dari sesuatu untuk tujuan tertentu.
Gagne (1977;1985) mengklasifikasi hasil pembelajar-an menjadi lima, dan dari lima klasifikasi ini tiga di antaranya termasuk ranah kognitif. Ketiga klasifikasi yang termasuk ranah kognitif adalah:
1.     Ketrampilan intelektual
2.     Informasi verbal
3.     Strategi kognitif
Ketrampilan intelektual dikembangkan lagi menjadi lima kategori yang diurut dengan menggunakan hubungan prasyarat belajar:
1.     Diskriminasi
2.     Konsep konkrit
3.     Konsep abstrak
4.     Kaidah
5.     Kaidah tingkat tinggi 
Merrill (1983) mengembangkan suatu model pembelajaran  yang disebut dengancomponent display theory (CDT). Dalam model ini, hasil pembelajaran  diklasifikasi ke dalam dua dimensi: tingkat unjuk-kerja dan tipe isi. Klasifikasi ini hanya diterapkan dalam belajar ranah kognitif. Dimensi tingkat unjuk-kerja dibagi menjadi tiga, yaitu:
1.     Mengingat
2.     Menggunakan
3.     Menemukan,
sedangkan tipe isi pembelajaran dibedakan menjadi empat, yaitu:
1.     Fakta
2.     Konsep
3.     Prosedur
4.     Prinsip
Ranah Kognitif
Bloom mengklasifikasi lebih lanjut ranah kognitif menjadi enam, dan tiap-tiap klasifikasi dikembangkan lagi menjadi bagian-bagian klasifikasi yang lebih khusus. Semua klasifikasi diurut secara hirarkhis dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Keenam klasifikasi ranah kognitif Bloom adalah sebagai berikut: (Klasifikasi lengkap dapat diperiksa dalam lampiran 1)
1.     Pengetahuan
2.     Pemahaman
3.     Penerapan
4.     Analisis
5.     Sintesis
6.     Penilaian
  • Pengetahuan: Klasifikasi yang menekankan pada mengingat, apakah dengan mengungkapkan atau mengenal kembali sesuatu yang telah pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan. 
  • Pemahaman: Klasifikasi ini menekankan pada pengubahan informasi ke bentuk yang lebih mudah dipahami.
  • Penerapan: Menggunakan abstraksi pada situasi tertentu dan konkrit. Tekanannya adalah untuk memecahkan suatu masalah. 
  • Analisis: Memilah informasi ke dalam satuan-satuan bagian yang lebih rinci sehingga dapat dikenali fungsinya, kaitannya dengan bagian yang lebih besar, serta organisasi keseluruhan bagian.
  • Sintesis: Penyatuan bagian-bagian untuk membentuk suatu kesatuan yang baru dan unik.
  • Penilaian: Pertimbangan-pertimbangan tentang nilai dari sesuatu untuk tujuan tertentu.
Gagne (1977;1985) mengklasifikasi hasil pembelajar-an menjadi lima, dan dari lima klasifikasi ini tiga di antaranya termasuk ranah kognitif. Ketiga klasifikasi yang termasuk ranah kognitif adalah:
1.     Ketrampilan intelektual
2.     Informasi verbal
3.     Strategi kognitif
Ketrampilan intelektual dikembangkan lagi menjadi lima kategori yang diurut dengan menggunakan hubungan prasyarat belajar:
1.     Diskriminasi
2.     Konsep konkrit
3.     Konsep abstrak
4.     Kaidah
5.     Kaidah tingkat tinggi 
Merrill (1983) mengembangkan suatu model pembelajaran  yang disebut dengancomponent display theory (CDT). Dalam model ini, hasil pembelajaran  diklasifikasi ke dalam dua dimensi: tingkat unjuk-kerja dan tipe isi. Klasifikasi ini hanya diterapkan dalam belajar ranah kognitif. Dimensi tingkat unjuk-kerja dibagi menjadi tiga, yaitu:
1.     Mengingat
2.     Menggunakan
3.     Menemukan,
sedangkan tipe isi pembelajaran dibedakan menjadi empat, yaitu:
1.     Fakta
2.     Konsep
3.     Prosedur
4.     Prinsip
Kombinasi dimensi unjuk-kerja dan tipe isi melahirkan matriks dua dimensi, seperti telah diuraikan dalam Bab 2.
Ranah Sikap
Ranah sikap dikembangkan oleh Krathwohl, Bloom, dan Masia (1964). Dikemukakan ada lima klasifikasi ranah sikap, dan tiap klasifikasi dibagi lebih lanjut menjadi bagian-bagian yang lebih khusus. Kelima klasifikasi utama mereka adalah: (Klasifikasi lebih rinci ditunjukkan dalam lampiran 2)
1.     Menerima
2.     Merespon
3.     Menghargai
4.     Mengorganisasi
5.     Bertindak konsisten
  • Menerima: Ranah ini berkaitan dengan keinginan siswa untuk terbuka (atau, peka) pada perangsang atau pesan-pesan yang berasal dari lingkungannya. Pada tingkat ini muncul keinginan menerima perangsang, atau, paling tidak, menyadari bahwa perangsang itu ada.
  • Merespon: Pada tingkat ini muncul keinginan untuk melakukan tindakan sebagai respon pada perangsang. Tindakan-tindakan ini dapat disertai dengan perasan puas dan nikmat.
  • Menghargai: Penyertaan rasa puas dan nikmat ketika melakukan respon pada perangsang, menyebabkan individu ingin secara konsisten menampilkan tindakan itu dalam situasi yang serupa. Pada tahap ini individu dikatakan menerima suatu nilai, dan mengembang-kannya, serta ingin terlibat lebih jauh ke nilai itu.
  • Mengorganisasi: Individu yang sudah secara konsisten dan berhasil menampilkan suatu nilai, pada suatu saat akan menghadapi situasi di mana lebih dari satu nilai yang bisa ditampilkan. Bila ini terjadi, maka individu akan mulai ingin menata nilai-nilai itu ke dalam suatu sistem nilai, menetukan keterkaitan antar nilai, dan menetapkan nilai mana yang paling dominan.
  • Bertindak konsisten sesuai dengan nilai yang dimilikinya. Ini adalah tingkat tertinggi dari ranah sikap. Di mana individu akan berperilaku secara konsisten berdasarkan nilai yang dijunjungnya.
Klasifikasi ranah afektif ini didasarkan pada asumsi bahwa perilaku tingkat yang lebih rendah merupakan prasyarat bagi perilaku tingkat yang lebih tinggi. Itulah sebabnya, ranah ini diurut dalam suatu garis kontinum dalam bentuk hirarkhis, dan pencapaiannya bersifat kumulatif. Mulai dari tahap pertama, yaitu menerima suatu nilai, keinginan untuk merespon, kepuasan yang didapat ketika merespon akan memunculkan penghargaan pada nilai itu, selanjutnya mengorganisasi nilai-nilai ke suatu sistem nilai yang sifatnya amat pribadi, dan akhirnya berperilaku secara konsisten berdasarkan nilai yang dimiliki dan dijunjungnya.
Ranah Psikomotorik
Simpson (1966) mengembangkan klasifikasi ranah psikomotorik menjadi lima. Mulai dari tingkat yang paling rendah, yaitu persepsi, sampai pada tingkat penguasaan ketrampilan yang terpola. Simpson masih mempertanya-kan satu tingkat lagi setelah tingkat kelima, yaitu penyesuaian dan keaslian. Tingkat ini belum dimasukkan secara sistematik dalam klasifikasinya.
Klasifikasi ranah psikomotorik adalah sebagai berikut:
1.     Persepsi
2.     Kesiapan
3.     Respon terbimbing
4.     Mekanisme
5.     Respon terpola
6.     Penyesuaian dan Keaslian

  • Persepsi: Proses munculnya kesadaran tentang adanya objek dan karakteristik-karakteristiknya melalui indra.
  • Kesiapan: Pada tigkat ini, siswa siap untuk melakukan suatu tindakan, baik secara mental, fisik, atau emosional.
  • Respon terbimbing: Siswa melakukan tindakan dengan mengikuti suatu model. Ini dapat dilakukan dengan meniru model dan coba-gagal sampai tindakan yang benar dikuasai.
  • Mekanisme: Pada tingkat ini siswa telah mencapai tingkat kepercayaan tertentu dalam menampilkan ketrampilan yang dipelajari.
  • Respon terpola: Pada tingkat ini, siswa telah mencapai tingkat ketrampilan yang tinggi. Ia dapat menampilkan suatu tindakan motorik yang menuntut pola tertentu, dengan tingkat kecermatan dan/atau keluwesan, serta efisiensi yang tinggi.
  • Penyesuaian dan Keaslian: Tingkat ini masih dipersoalkan oleh Simpson, perlu dimasukkan atau tidak. Pada tingkat ini, siswa telah begitu trampil sehingga ia dapat menyesuaikan tindakannya untuk situasi-situasi yang menuntut persyaratan tertentu.  Ia juga dapat mengembangkan pola tindakan baru untuk memecahkan masalah-masalah tertentu.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons